Adhelia's Zone

Hey Sobat, selamat datang di Blog saya :)

Kamis, 22 Maret 2012

Dia Kakakku

baca cerpen pertama saya ya,
maaf ya kalo cerpennya jelek atau ga sempurna, soalnya baru belajar :)

Bayi perempuan berkulit putih, beralis tebal dengan lesung pipit yang sangat  manis. Berat nya mencapai tiga kilogram, sungguh bayi yang sangat cantik dan sehat. Dia sangat cantik ! Kini Dira resmi menjadi seorang kakak, senyum yang tersungging dipipinya tidak berhenti ia tunjukkan. Betapa bahagianya Dira. Zahra Ashifa namanya, manis dan penuh arti.
Empat , lima, enam bulan berlalu. Bahkan tahun demi tahun pun berlalu dengan cepatnya.  Kini Zahra berubah menjadi seorang remaja yang cantik dan pintar. Zahra berusia 12 tahun dan Dira berusia 17 tahun.
Zahra duduk dikelas 1 SMP dan Dira duduk di kelas 3 SMA, suatu perjalanan hidup yang begitu cepat.  Rasanya baru kemarin sore Dira memiliki adik kecil yang lucu namun kini dia berubah menjadi seorang gadis. Hidup keluarga mereka sangatlah bahagia, hari hari mereka lewati dengan senyuman dan kebersamaan. Prestasi yang diraih Zahra pun sangat membanggakan, terlebih saat Zahra berhasil meraih medali emas saat olimpiade Matematika.
“ah, bangga rasanya bisa memiliki adik sepertimu” puji Dira sambil mengelus rambut halus Zahra,
“kakak, Rara juga bangga punya kakak yang sangat baik seperti ka Dira” kata Zahra sambil memeluk hangat tubuh Dira.
“menyayangimu adalah tugas wajib yang harus kakak, ayah dan ibu lakukan” kata Dita sambil tersenyum manis pada adiknya tersayang itu.
“kakak, kemarin kan Dina bilang gini aku iri sama kamu Ra” cerita Zahra sambil memperagakan gerakan yang dilakukan temannya saat ngobrol dengannya dua hari lalu ditaman
“lho, kenapa” Tanya Dira penasaran.
“dia bilang dia iri sama aku soalnya aku punya kaka yang baiikkkkkkk, cantiiikk, dan penyayang kaya kaka” jelas Zahra
Dira hanya membalas dengan senyuman, dia memang sangat menyayangi adiknya itu. Apapun rela ia lakukan untuk kebahagiaan adik satu-satunya itu. Pernah suatu saat Zahra tidak sengaja mengotori tugas sekolahnya dengan ice cream cokelat, namun Dira hanya membalasnya dengan senyuman dan cubitan gemas pada adiknya itu.
Pagi itu baru saja Dira membuka matanya, Zahra sudah berada dihadapannya sambil tersenyum dan membawakannya sarapan.
“kakak !! bangun !! yuk sarapan dulu” teriak Zahra sambil mencubiti pipi kakaknya itu.
“iya bawel !” kata Dira.
“nih sarapannya,” Zahra menjulurkan makanan yang sedari tadi dipegangnya
“iya makasih, eh ayah sama ibu kemana?” kata Dira sambil melahap roti selai kacang kesukaannya
“ayah sama ibu pergi ke Surabaya, katanya nenek sakit” jelas Zahra
“ohh” jawab Dira sambil membundarkan mulutnya.
***
“kakak !!” teriak Zahra dari kamar mandi
Dira pun beranjak dari sofa menuju kekamar mandi dengan tergesa-gesa.
“ada apa Zahra?” tanyanya khawatir
“kakak, kenapa ada darah dicelanaku?” kata Zahra sambil menangis
Dira hanya tersenyum melihatnya.
“ternyata adikku sudah gede toh”
“kakak, rara kenapa? Apa Rara mau mati? Kakak, Rara takut” gerutu adik cantiknya itu.
“hush, hati- hati kalo ngomong, Ra kamu ga mau mati ko, kamu menstruasi, itu artinya kamu udah gede” jelas Dira sambil tertawa kecil.
Hari itu menjadi hari istimewa Dira, karna dia bisa menjadi orang pertama yang menyaksikan adiknya memasuki masa pubertas.
“bu, ada kabar bahagia loh” adu Dira saat menelpon Ibunya yang sedang berada di Surabaya.
“kabar apa Dira?” Tanya Ibu
“sekarang Rara udah gede bu, dia udah menstruasi” jelas Dira
“Alhamdulillah, lalu bagaimana keadaannya sekarang?”
“yah gitu deh bu, dari tadi ribet banget.”
“insya ALLAH, lusa ibu dan ayah pulang ke Bogor”
“baiklah, bawa oleh –oleh ya bu”
“kamu ini, sudah ya Assalamu’alaikum”
“waalaikum salam” jawab Dira menutup pembicaraan.
                Tak lama kemudian,
“kakak! Bantuin aku!” teriak Zahra dari kamar
“iya bawel” jawab Dira.
***
Tidak seperti biasanya, hari Zahra terlihat sangat pucat,
“Ra, kamu kenapa? Sakit?” Tanya ibu pada Zahra
“ngga bu, Cuma pusing”
“yaudah, hari ini kamu gausah sekolah dulu, istirahat aja ya” kata Ibu sambil mengelus rambut Zahra dengan penuh kasih sayang
Diluar rumah,
“assalamu’alaikum, kakak pulang” kata Dira sambil melepaskan sepatunya dan mencium tangan ibunya
“waalaikum salam, jangan berisik! Adikmu sedang tidur” nasihat ibu
“loh, Rara ga sekolah bu?”
“dia lagi kurang enak badan”
“oh yaudah aku keatas dulu ya bu, mau liat Rara”
“tapi jangan berisik ya”
“iya”
Dira pun beranjak ke kamar, dan membuka pintu kamar perlahan lahan agar adik kesayangannya tidak terbangun.
 Kian lama penyakitnya tidak kunjung sembuh hingga akhirnya mereka mengetahui penyakit yang diidap Zahra. Kanker hati stadium akhir !. Kini tak ada lagi senyum manis dari bibir adiknya itu, suasana pun penuh dengan kekhawatiran.
Tak pernah Dira sangka, adiknya yang terlihat sangat sehat telah menyimpan penyakit yang sangat jahat. Seperti mati suri rasanya ketika Dira mendengar berita itu, tubuhnya gemetar lemas tak berdaya. “Mengapa kami baru mengetahuinya sekarang?” Tanya Dira pada dirinya sendiri.
 “ya ALLAH, maafkan kami!” jeritnya pedih.
Perlahan penyakit yang diderita Zahra kian parah, sudah berbagai cara ditempuh untuk kesembuhan Zahra. Ayah Dira pun sudah mencari cari berbagai obat untuk kesembuhannya, namun tidak pernah ada hasilnya. Dokter memvonis hidup Zahra tak akan lama lagi, dia harus segera mendapatkan donor hati  kalau tidak nyawa Zahra akan melayang.
Hari ini yang bertugas menjaga Zahra adalah Dira, sedangkan ibu pulang untuk beristirahat karna sudah kelelahan menjaga Zahra sedangkan ayah pergi bekerja.
“kakak” panggil Zahra lemah
“iya?” sahut Dira,
“kakak ga akan ninggalin Rara kan?” Tanya Zahra
“tentu, kakak akan selalu ada disamping Rara sampai Rara sembuh,” jawab Dira menahan air mata.
“kakak mau ga anterin Zahra ketaman?” pinta Zahra pada kakanya
“Rara kan belum sembuh, nanti kalau kamu udah sembuh baru deh kakak ajak kamu ke taman”
“tapi aku maunya sekarang” rengek Zahra, Dira tak tega melihat adiknya merengek seperti itu hingga akhirnya dia pun mau mengantar Zahra ke taman.
“ya udah tapi kamu pakai jaket dulu ya”
Ditaman, mereka berdua duduk di bangku taman sambil bercengkrama tentang masa-masa indah yang dulu pernah mereka lalui. Hari pun kian sore, mereka akhirnya kembali ke rumah sakit. Sesampainya di Rumah sakit, Zahra pun masih belum ingin tidur, ia ingin terus bermain bersama kakanya, hingga akhirnya
“kakak, Rara cape” keluh Zahra
“yaudah kamu istirahat ya” ajak Dira sambil menuntun adiknya ke ranjang dan menyelimutinya dengan selimut, rasanya tak tahan Dira menahan air mata. Perasaannya hancur, saat melihat adiknya lemah terkulai di atas ranjang.
Dia ingat, dia ingin memberikan sebuah hadiah kepada adikknya, sebuah kotak musik. Dia pun mengambilnya di tas.
“kakak, punya hadiah buat Rara” kata Dira sambil memegang sebuah kotak musik yang disembunyikan dibelakang badannya
“apa?”
“taraaa !!” kata Dira sambil memperlihatkan kotak musik berbentuk hari yang berwarna cokelat klasik
“waw, cantik banget, boleh aku mainin?” Tanya Zahra, Dira pun mengangguk setuju. Zahra membuka kotak itu dan muncul boneka berbentuk gadis cantik sedang menari dengam diiringi lagu klasik yang sangat indah. Namun, tiba-tiba ada setitik darah menetes ke kotak tersebut dan menodai bonekanya.
Dira sangat terkejut, perlahan dia menatap wajah adiknya yang sedang menahan sakit namun tetap tersenyum melihat kotak musik itu, dadanya bergetar kencang, tangannya dingin,
“Rara gapapa kan?” Tanya Dira sambil meneteskan air mata
“gapapa kok ka?”
“Tapi hidup Rara keluar darah?”
“aku gapapa ka,” jawab Zahra dengan napas yang tersenggal-senggal, kemudian kotak musik itu pun terjatuh dari genggaman Zahra, dan Zahra meremas selimut yang menutupi badannya
“kakak sakit! Sakit ka!!” teriak Zahra, Dira pun segera memanggil dokter dan menelpon orang tuanya
Tak lama, dokter keluar dari ruangan dan berkata
“kita harus segera mendapatkan donor hati”
“aku akan mendonorkannya dok” kata Dira,
“ta.. tapi” gumam ibu kaget
“gapapa bu, ini demi nyawa Zahra, aku ikhlas” kata Dira sambil tersenyum
Setelah pengecekkan organ hati Dira, ternyata hasilnya cocok dengan hati Zahra dan mereka pun mulai merencanakan jadwal operasi.
***
Waktu yang direncanakan tiba, operasi akan segera dimulai. Dira tersenyum melihat adik kecilnya itu, berharap operasinya berjalan lancar agar dia bisa melihat adiknya tertawa lagi. Dira pun sudah bersiap memasuki ruang operasi.
“bu, kalau operasinya sudah selesai, dan Zahra sudah sadar tolong berikan surat itu pada Zahra” kata Dira sambil menyerahkan surat kecil dengan amplop berwarna pink, kesukaan Zahra
“kenapa kamu ga ngomong langsung aja?” Tanya ibu sambil meneteskan air mata sesekali
“aku takut ga sempet bu” kata Dira
Operasi pun dimulai, lampu operasi sudah mulai dinyalakan. Ibu, ayah, kakek dan nenek mereka menunggu diluar dengan perasaan gelisah. Sudah 4 jam berlalu namun belum juga lampu operasi itu belum juga padam. Ketika waktu sudah berjalan 5 setengah jam, dokter pun keluar dengan wajah lesu.
Dua hari setelah operasi, Zahra sudah sadarkan diri.
“Alhamdulillah, kamu udah sadar” kata ibu sambil tersenyum
“emang Rara kenapa bu?” Tanya Zahra
“kamu kan abis di operasi” kata ibu
“operasi?”
“iya, oh iya ini surat dari kakakmu” kata ibu sambil memberikan secaris surat yang dititipkan Dira padanya.

“loh kak Dira kemana bu?”
“sudah baca saja, nanti kamu pun akan tau” perintah ibu sambil mencoba menahan air mata dan keluar ruangan. Perlahan Zahra membuka surat itu dan mulai membacanya

"Assalamu’alaikum cantik..
Bagaimana keadaanmu? Alhamdulillah Rara udah sadar. Sengaja kakak titip surat ini ke Ibu soalnya takut kakak ga sempet ketemu Rara lagi. Kakak senang bisa lihat Rara tersenyum, meski kakak udah ga bisa sama-sama Rara lagi.
Udah 13 tahun kita lewati sama-sama dengan senyuman yang selalu menghiasi hidup kita setiap harinya, mulai dari Rara kecil sampai gede kaya gini. Kakak bangga pernah menjadi bagian dalam hidup Rara, kakak seneng banget bisa punya adik kaya Rara. Satu hal yang bisa buat kakak bahagia yaitu bisa melihat orang yang kakak sayangi bisa tersenyum lagi termasuk Rara. Kakak seneng bisa jadi orang pertama yang nyaksiin Rara masuk ke masa pubertas. Kakak seneng !!
Tapi kebahagiaan itu hilang saat kakak tau Rara sakit. Rara tau ga apa yang  buat hati kakak hancur? Ya.. saat mengetahui Rara sakit, Kakak ngerasa hidup ini ga adil,! Kenapa? Karena orang secantik dan sebaik kamu harus tersiksa karena penyakit jahat itu. .!
Tapi sekarang kakak jadi bahagia lagi karna kakak bisa menyelamatkan senyum Rara yang dulu sempat hilang J
Ra, kakak titip pesan ke kamu,
Jaga ibu dan ayah dengan baik, jangan buat mereka kecewa, buat mereka dan kakak bangga, jangan tinggalin solat dan tetep jadi remaja yang baik..
Rara, jaga diri Rara baik-baik, kakak juga akan terus mendo’akan yang terbaik buat Rara, maafin kakak karna ga bisa nemenin Rara sampai dewasa. Tapi hal yang perlu Rara tau, insya ALLAH hati yang kakak kasih ke Rara bisa terus nemenin Rara sampai dewasa.
Oh iya, Kakak punya 3 kalimat yang bisa ungkapin perasaan kakak ke Rara yaitu
“KAKAK SAYANG RARA”
Udah dulu ya sayang, kakak cape nulisnya.. kakak tunggu surat dari kamu, hehehe :D
Wassalamu’alaikum ..
Yang menyayangimu


Nadira Syavira"


Hatinya menjerit setelah membaca surat dari Dira, tak tahan menahan perihnya hati itu saat tahu bahwa Dira tak lagi bersamanya.
“kak Dira !!!!” jerit Zahra sekuat tenaga, ibu masuk keruangan setelah mendengar Zahra menjerit.
“kakakmu pasti bangga padamu Ra, jangan menangis, ! jangan buat kakakmu kecewa” nasihat ibu,
“tapi kenapa harus kak Dira bu? Kenapa??!” kata Zahra,
“ibu, boleh Rara ke makam ka Dira?” pinta Zahra
“tentu” sahut ibu menyetujui permintaan Zahra
Keesokkan harinya. Zahra, ayah dan ibu mengunjungi makam Dira yang masih basah dan bertabur bunga yang masih segar.
“iya ka, Rara akan jaga ayah dan ibu, Rara akan buat kakak dan mereka bangga sama Rara, Rara janji!” gumam Rara.

                                                                                                    ***
“kamu pasti bangga punya kaka kaya ka Dira” kata Diana setelah mendengar cerita Zahra tentang kakanya itu.
“tentu, aku sangat bangga, sangat bangga” jawab Zahra
“oh iya, kan dalam surat itu, katanya ka Dira nunggu balasan dari suratmu, apa udah kamu balas?” Tanya Syifa
“belum” jawab Zahra sedih
“kenapa?” Tanya Diana
“aku bingung bagaimana cara mengirim balasan surat dari ku agar ka Dira bisa membacanya”
“kan, aku sering liat di film kalo orang mau ngirim surat ke orang yang jauh, pake balon Ra” usul Diana
“ahaha, ide konyol tapi kenapa ga kita coba” kata Zahra setuju
“yaudah, ayo kita bikin” ajak Syifa
                Mereka bertiga mulai membuat surat untuk ka Dira, Zahra mengambil secarik kertas dan mulai menuliskan kata demi kata dengan pena berwarna merah.




"Assalamu’alaikum kakakku yang cantik..
Maaf Rara baru membalas surat dari kakak soalnya Rara gatau cara mengirim suratnya,
Kakak, alangkah bahagianya Rara bisa memiliki kakak sebaik kakak,
Buat Rara, kakak adalah manusia terhebat kedua di dunia selain Ibu..
Kakak, hati ini benar-benar melindungi Rara seperti dulu saat kakak masih ada, saat dimana kakak selalu melindungi Rara..
Oh iya, Rara berhasil dapat mendali emas lagi loh, Rara menang di olimpiade bahasa inggris.. kakak tau itu semua berkat siapa? Itu semua berkat semangat yang selama ini kakak berikan ke Rara,
Kakak..
Rara rindu banget sama kakak, Rara pengen ketemu kakak, mau liat senyum manis kakak, mau main bareng kakak.. tapi Rara seneng, karena ada kotak musik pemberian kakak yang bisa ngobatin rasa rindu Rara ke kakak. Hampir setiap hari dan setiap waktu, kotak musik itu Rara mainkan..
Rara juga punya 3 kata untuk ungkapin perasaan yang selama ini Rara rasakan kepada kakak, yaitu..
“I LOVE YOU”
Ga banyak yang harus Rara sampaikan karena cukup dengan 3  kata itu sudah menyimpulkan semua yang ingin Rara sampaikan.
Kakak, Rara sayang kakak
Wassalamu’alaikum..
Salam rindu dari adikmu


Zahra Ashifa"


Kemudian Zahra pun memasukkannya ke dalam amplop dan membolongi amplop itu lalu mengikatkannya ke tali yang sudah terikat dengan balon,
“yaudah yuk kita terbangin” ajak Diana
“bissmillahirrohmanirrohim!” ucap ketiga gadis itu serentak sambil melepaskan balon tersebut hingga terbang tinggi, sangat tinggi dan perlahan menghilang.
“ah semoga kak Dira menerima surat dari kita ya” kata Zahra
“iya,” sahut Diana dan Syifa
“kakakmu hebat ya Ra” kata Diana dan Syifa pun mengangguk setuju
“ya,  dia adalah kakakku, kakak terhebat yang pernah ku temui di dunia ini!” sahut Zahra bangga.
***

__sekian__
kritik dan saran dibutuhkan :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar